Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIM Implementasikan MK Fotografi Lewat Aksi Empati di SLB AYAPTI Makassar

Makassar — Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Makassar (FISIP UIM) melaksanakan kegiatan pembelajaran lapangan bertajuk “Menyapa Dunia Tanpa Cahaya” di Sekolah Luar Biasa (SLB) AYAPTI Makassar pada Senin, 12 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Mata Kuliah Fotografi yang dirancang untuk mengasah kepekaan visual, empati sosial, serta kemampuan mahasiswa dalam menangkap realitas sosial melalui media fotografi.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempraktikkan teknik pengambilan gambar, tetapi juga diajak memahami makna di balik setiap visual yang diabadikan. Interaksi langsung dengan siswa penyandang disabilitas netra menjadi ruang belajar kontekstual bagi mahasiswa untuk merasakan bagaimana komunikasi visual dapat berfungsi sebagai medium empati, inklusi, dan keberpihakan sosial.

“Melalui kegiatan ini, kami banyak belajar, tidak hanya mengenai teknik fotografi, tetapi juga memahami proses pembelajaran serta aktivitas sehari-hari teman-teman tunanetra,” ujar Ulfa, salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa terlibat dalam berbagai aktivitas edukatif dan interaktif bersama siswa SLB Ayapti. Mereka mendampingi proses belajar, berkomunikasi secara non-verbal, serta mendokumentasikan momen-momen keseharian siswa sebagai bagian dari tugas fotografi yang menekankan nilai kemanusiaan dan etika visual.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UIM, Dr. Rahmah Fitriana, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata penerapan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning).

“Melalui Mata Kuliah Fotografi, mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan karya visual yang estetis, tetapi juga mampu menangkap pesan, nilai, dan realitas sosial. Kegiatan di SLB Ayapti ini menjadi ruang belajar yang sangat penting untuk menumbuhkan empati, sensitivitas sosial, serta tanggung jawab etis sebagai calon komunikator,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan seperti ini sejalan dengan visi Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UIM dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kemampuan membaca realitas masyarakat secara kritis.

Kegiatan “Menyapa Dunia Tanpa Cahaya” menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa karena membuka perspektif baru tentang makna melihat, merekam, dan menceritakan dunia dari sudut pandang yang berbeda. Melalui lensa kamera, mahasiswa belajar bahwa fotografi bukan sekadar teknik visual, melainkan sarana menyuarakan nilai kemanusiaan dan inklusivitas (sbr).

Leave a Comment