Diklat Muharrik Bagi Pejabat Sruktural UIM
Fisip-UIMakassar. Bertempat di auditorium Muhyidin M.Zain telah berlangsung Diklat Muharrik Aswaja bagi Pejabat Struktural Universitas Islam Makasar (UIM). Kegiatan diadakan pada Minggu (18/2), berlangsung mulai pukul 8 pagi hingga pukul 9 malam. Lebih dari seratus orang peserta yang juga pejabat struktural dengan tekun mengikuti kegiatan hingga penutupan. Kegiatan Diklat ini merupakan program dari Lembaga Aswaja UIM yang kini di pimpin Dr.H. Masykur Yusuf, M. Ag.
Diklat Muharrik dibuka oleh Rektor Universitas Islam Makassar Prof. Dr. Muammar Bakri, Lc, M.Ag. Dalam sambutannya rektor mengatakan, tentu kita tahu bahwa kampus kita ini visi dan misinya adalah keaswajaan. Lalu terngiang dalam ingatan, pikiran dan kesadaran kita, bila ini menjadi ciri yang sudah dimiliki dan ditetapkan oleh para perintis UIM, Yayasan Al Gazali dan pengurus NU Sulsel. Karena sudah jadi visi besar bersama, maka diharapkan semua proses apa pun yang dilakukan di kampus ini dapat dipastikan targetnya adalah aswaja. Kita juga tahu bersama, bahwa hadirnya lembaga ini, untuk menelorkan generasi-generasi anak bangsa berprestasi Aswaja.
Ditambahkan rektor Universitas Islam Makassar, semua mahasiswa yang keluar dari rahim kampus UIM harus membawa nilai nilai aswaja, apakah dalam perilaku, akademik maupun sosial kemasyarakatan. Dan pastilah, tidak mungkin kita bisa menelorkan mahasiswa yang memiliki sikap keaswajaan kalau kita tidak memiliki sistem keaswajaan. Dimana didalamnya ada semua komponen, mulai dari pejabat, dosen dan tendik. Pendidikan sebagai komponen utama sangat mempengaruhi karakter keaswajaan di kampus ini. Kalau tiga komponen ini tidak bekerja secara simultan sesuai dengan target dan alur dari perjalanan rel kereta keaswajaan maka pastilah tidak bisa menelorkan generasi-generasi yang baik.
Untuk itu, kata rektor, Lembaga Kajian Islam Aswaja dengan IKUnya yang sudah ditandatangani antara lain lain adalah internalisasi nilai-nilai aswaja dalam kehidupan civitas kampus. Kegiatan diklat inilah yang menjadi bagian internalisasi keaswajaan tersebut. Disebut muharrik yang artinya motivator dan penggerak. Diharapkan nantinya para pejabat itulah yang bisa memberikan contoh.
Dalam diklat ini beragam materi diberikan termasuk bagaimana menjadi da’i atau penceramah. Direncanakan Diklat berlangsung selama tiga kali, dimana selanjutnya akan dijadwalkan kepada para dosen dan tenaga pendidik. (Fisip)