Kultum dengan Tema Tradisi Literasi Informasi dalam Islam
Fisip.UIMakassar-Ba’da Dzuhur di Masjid As Shahabah, Ketua Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi menyampaikan sebuah kultum yang berjudul “Tradisi Literasi Informasi dalam Islam”. Acara yang berlangsung hikmat tersebut dihadiri oleh jamaah masjid dan beberapa dosen serta mahasiswa. Qultum berlangsung pada Rabu,(25/9).
Dalam kultumnya, La Ode Rusadi, S.I.P., M.Hum menyoroti fenomena obesitas informasi yang terjadi di era modern, sebagaimana diungkap oleh penulis Yuval Noah Harari dalam bukunya NEUS (Jaringan Informasi). Harari mengemukakan dalam tulisanya bahwa revolusi informasi yang bergerak begitu cepat membuat manusia tenggelam dalam arus informasi yang tidak semuanya benar. Akibatnya, banyak dari masyarakat hanya mampu mengemas informasi menjadi fiksi, fantasi, atau bahkan delusi massal, seperti yang terlihat dari maraknya hoaks.
Lebih lanjut, La Ode Rusadi juga mengutip ramalan Harari yang menyebutkan bahwa kehidupan manusia mungkin akan menuju distopia, di mana semua peran manusia diambil alih oleh kecanggihan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Namun, dalam perspektif Islam, ia menegaskan bahwa teknologi seharusnya digunakan untuk memudahkan hidup manusia dalam hal kebaikan dan kemaslahatan umat, sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Al-A’la ayat 8 yang berbunyi, “Dan Kami akan memudahkan bagimu jalan menuju kemudahan.”
Selain itu, La Ode Rusadi juga menyoroti masalah penurunan kemampuan literasi di Indonesia berdasarkan survei Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2022. Temuan survei menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains pelajar Indonesia mengalami penurunan, menempatkan Indonesia di peringkat ke-6 dari 8 negara yang disurvei di Asia Tenggara.
“Kemajuan teknologi di Indonesia yang mulai berkembang sejak tahun 90-an sayangnya belum memberikan dampak positif yang signifikan. Ini bisa kita lihat dari penurunan kemampuan literasi siswa yang justru semakin memprihatinkan,” ujar La Ode Rusadi.
Dalam perspektif Islam, lanjutnya, tradisi literasi telah menjadi salah satu pilar penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak riset dan temuan di bidang kedokteran, peralatan astronomi, serta pusat-pusat pembelajaran di masjid telah memperkaya khazanah intelektual Islam selama masa kejayaannya. Masjid, pada masa itu, tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai institusi pendidikan di mana tradisi menulis, halaqah, dan musyawarah ilmiah berkembang dengan pesat.
Kultum ini mengajak para jamaah untuk merefleksikan kembali pentingnya literasi informasi dalam membentuk masyarakat yang cerdas dan mampu menghadapi tantangan era digital. La Ode Rusadi menutup kultumnya dengan harapan agar umat Islam dapat kembali menghidupkan tradisi literasi sebagaimana yang pernah berjaya pada masa lalu.(Fisip)